(Tema : Penduduk,Masyarakat,Kebudayaan)
Akhir-akhir ini kita sering melihat hal-hal yang "berbau" Jepang. Sebut saja restoran jepang, bahasa jepang, animasi jepang, budaya jepang, dan lain sebagainya. Anak muda zaman sekarang tidak sedikit yang mendalami budaya jepang tersebut, mereka bahkan merasa bangga bila kegiatan yang mereka kerjakan dilhat dan diperhatikan oleh orang lain, dan diantara komunitas kebudayaan jepang tersebut ada komunitas yang diisi oleh sekumpulan orang yang disebut otaku.
Otaku adalah suatu kata ganti orang kedua yang sopan dalam bahasa Jepang. Kata ini mulai digunakan
oleh kalangan penggemar dan penulis kisah fiksi ilmiah (science fiction/SF) di Jepang sekitar periode 1970-an untuk saling memanggil satu sama lain. Semakin kemari kata otaku diperuntukan untuk orang yang sangat fanatik terhadap animasi jepang. Di Jepang sendiri Otaku adalah kaum minoritas yang dipandang sebelah mata, karena mereka menganggap otaku itu adalah orang aneh yang suka menyendiri dalam kamar sambil menonton anime (Animasi Jepang) dengan hobi mengoleksi action figure (mainan replika tokoh anime). Dan kebanyakan otaku di Jepang sendiri adalah seorang penyendiri yang tidak mau bersosialisasi dengan orang lain, mereka hanya merasa nyaman jika berkomunikasi dengan sesama otaku yang membicarakan hobi yang mereka sukai.
Sebaliknya di Indonesia mereka yang menyebut diri mereka otaku malah merasa bangga. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka bila mereka dapat berpakaian dan bertingkah laku bagaikan tokoh anime. Mereka lebih memilih mendatangi acara-acara kebudayaan Jepang walaupun harus antri berjam-jam lamanya dibandingkan dengan datang ke festival kebudayaan Indonesia seperti pertunjukan wayang, pameran batik, dan lain sebagainya.
Saya miris melihat "serangan" budaya luar begitu kuat sehingga kebudayaan yang ada di Indonesia kalah pamor dibandingkan dengan kebudayaan dari luar. Kita selaku masyarakat Indonesia harus melestarikan kebudayaan Indonesia dengan sepenuh hati, jangan sampai negara lain mengklaim kebudayaan kita. Saya pun tidak munafik, saya sendiri masih belum pernah datang ke acara kebudayaan indonesia dengan niat sendiri. Tetapi apa salahnya jika kita lebih mengedepankan budaya indonesia dibandingkan budaya dari luar.
Saya kira masih banyak yang harus dibenahi untuk meningkatkan minat penduduk Indonesia terhadap kebudayaan Indonesia. Sebelum mengakhiri tulisan ini saya mohon maaf bila ada kata-kata yang menyakiti, saya tidak bermaksud memandang negatif budaya luar, tetapi alangkah baiknya kita tidak melebih-lebihkan budaya luar dibandingkan budaya Indonesia. Terima Kasih.
Daftar Pustaka :
http://my.jurnalotaku.com
http://japanesestation.com
http://japanesestation.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar