Selasa, 13 Oktober 2015

Pahlawan Muda Pembangkit Bangsa

(Tema : Pemuda dan Sosialisasi)

     Pahlawan, mungkin kata tersebut tidak asing bagi telinga kita. Jika mendengar kata pahlawan pasti pikiran kita langsung menuju pada para pahlawan yang hidup sebelum tahun 1945, seperti Ir.Soekarno, Imam Bonjol, Ki Hajar Dewantara, dan lain sebagainya. Mereka adalah pahlawan Indonesia yang telah membuat kita dapat tinggal dengan nyaman hingga saat ini di tanah air tercinta ini.
     Tapi pernahkah anda berpikir bahwa saat ini kita dikelilingi oleh banyak sekali pahlawan. Contoh nyata pahlawan saat ini adalah guru, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang rela berkorban demi mencerdaskan bangsa. Anda juga berpikir pasti guru itu adalah orang tua yang sudah berpengalaman dan memiliki ilmu sehingga dapat mengajarkannya kepada penerusnya. Ternyata banyak sekali guru yang umurnya bahkan masih sangat muda, contohnya adalah para mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang terpilih menjadi Relawan Guru Sobat Bumi (RGS) untuk mengabdi di Indonesia Timur.
     Mahasiswa tersebut dipilih oleh pertamina foundation untuk diberangkatkan  ke Kabupaten Keerom dan Kabupaten Wamena Propinsi Papua untuk pengabdian mengajar kepada anak-anak di kedua wilayah tersebut. Untuk mewujudkan program yang sudah disiapkan sejak Juni 2012 itu, Pertamina Foundation telah mengirimankan 13.000 buku teks untuk SD kelas 1 sampai kelas 3.
     Dengan adanya program tersebut kita mengetahui bahwa yang muda pun dapat menjadi pahlawan. Kita dapat mencontoh perbuatan tersebut sehingga penyetaraan pendidikan di pelosok Indonesia dapat tercapai dan membuat masa depan Indonesia menjadi lebih cerah. Semoga program tersebut dapat diadakan disetiap Universitas yang ada di Indonesia sehingga semakin banyak pahlawan-pahlawan muda yang dapat berpartisipasi dalam rangka memajukan pendidikan bangsa.
     Itu hanya merupakan sebagian contoh kecil yang dapat ditunjukan untuk menjadi pahlawan muda. Sebenarnya menjadi pahlawan itu tidak terikat pada ruang lingkup yang kecil, jika kita tidak dapat melakukan hal tersebut masih banyak hal lain yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk menjadi seorang pahlawan. Kita lihat saja dari lingkungan kita sendiri. Kita dapat memulainya dari hal yang kecil, mungkin itu kecil dimata kita tetapi dapat menjadi sangat berarti dimata orang lain. Saya harap kita semua dapat menjadi pemuda yang dapat menjadi pahlawan untuk bangsa.

Daftar Pusataka :
www.tribunnews.com
    



Ibu Kota Jakarta, Harapan atau Keputusasaan?

(Tema : Individu,Keluarga,Masyarakat)


     Semakin hari semakin padat, itulah ungkapan yang bisa disebutkan untuk Jakarta ibu kota Negara Indonesia saat ini. Bagaimana tidak seluruh lapisan individu dari setiap sudut kota di Indonesia pergi untuk mengadu nasib ke ibu kota. Setidaknya jumlah penduduk Kota Jakarta saat ini sudah mencapai 12,7 juta orang pada siang hari dan 9,9 juta orang pada malam hari.
     Rata-rata orang yang datang ke Jakarta adalah mereka yang bertujuan untuk merubah nasib, walaupun mereka tidak memiliki sanak keluarga di ibu kota. Mereka datang karena ajakan dari teman satu kota yang telah bekerja sebelumnya, sehingga mereka tertarik untuk mengais rezeki di ibu kota, bahkan tanpa modal untuk bersaing di ibu kota.
     Banyak yang telah berhasil dan sukses di Jakarta, tetapi tidak sedikit juga yang gagal dan putus asa di Jakarta. Mereka yang berhasil tentu saja dapat bertahan di kerasnya kehidupan ibu kota, tetapi mereka yang kurang beruntung justru malah terjerumus dalam kejamnya ibu kota.
     Kerasnya persaingan di Jakarta menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya orang yang putus asa ketika mencoba mengadu nasib, dari berbagai kalangan pun ikut hadir meramaikan persaingan di ibu kota. Perlu diketahui tidak sedikit dari mereka yang gagal mengadu nasib di ibu kota tidak kembali ke kampung halamannya. Banyak alasan yang menyebabkan mereka tetap tinggal walaupun tidak berhasil di ibu kota. Ada yang tidak punya modal untuk kembali ke kampung halaman sehingga mereka luntang-lantung di setiap sudut ibu kota. Bahkan ada yang menikmati profesinya menjadi seorang "Gepeng" walaupun itu bukanlah hal yang patut untuk dibanggakan.
     Semakin padatnya ibu kota Jakarta membuatnya semakin sulit untuk mencari peluang untuk bertahan. Hanya yang kuatlah yang dapat bertahan. Walaupun begitu tidak dipungkiri Jakarta memang tempat semua harapan dapat tercapai, dan sekaligus tempat keputusasaan berkumpul.

Daftar Pustaka :
www.merdeka.com

Senin, 12 Oktober 2015

Maraknya Budaya Jepang Ditengah Krisis Budaya Indonesia

(Tema : Penduduk,Masyarakat,Kebudayaan)


     Akhir-akhir ini kita sering melihat hal-hal yang "berbau" Jepang. Sebut saja restoran jepang, bahasa jepang, animasi jepang, budaya jepang, dan lain sebagainya. Anak muda zaman sekarang tidak sedikit yang mendalami budaya jepang tersebut, mereka bahkan merasa bangga bila kegiatan yang mereka kerjakan dilhat dan diperhatikan oleh orang lain, dan diantara komunitas kebudayaan jepang tersebut ada komunitas yang diisi oleh sekumpulan orang yang disebut otaku.
     Otaku adalah suatu kata ganti orang kedua yang sopan dalam bahasa Jepang. Kata ini mulai digunakan oleh kalangan penggemar dan penulis kisah fiksi ilmiah (science fiction/SF) di Jepang sekitar periode 1970-an untuk saling memanggil satu sama lain. Semakin kemari kata otaku diperuntukan untuk orang yang sangat fanatik terhadap animasi jepang. Di Jepang sendiri Otaku adalah kaum minoritas yang dipandang sebelah mata, karena mereka menganggap otaku itu adalah orang aneh yang suka menyendiri dalam kamar sambil menonton anime (Animasi Jepang) dengan hobi mengoleksi action figure (mainan replika tokoh anime). Dan kebanyakan otaku di Jepang sendiri adalah seorang penyendiri yang tidak mau bersosialisasi dengan orang lain, mereka hanya merasa nyaman jika berkomunikasi dengan sesama otaku yang membicarakan hobi yang mereka sukai.
     Sebaliknya di Indonesia mereka yang menyebut diri mereka otaku malah merasa bangga. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka bila mereka dapat berpakaian dan bertingkah laku bagaikan tokoh anime. Mereka lebih memilih mendatangi acara-acara kebudayaan Jepang walaupun harus antri berjam-jam lamanya dibandingkan dengan datang ke festival kebudayaan Indonesia seperti pertunjukan wayang, pameran batik, dan lain sebagainya.
     Saya miris melihat "serangan" budaya luar begitu kuat sehingga kebudayaan yang ada di Indonesia kalah pamor dibandingkan dengan kebudayaan dari luar. Kita selaku masyarakat Indonesia harus melestarikan kebudayaan Indonesia dengan sepenuh hati, jangan sampai negara lain mengklaim kebudayaan kita. Saya pun tidak munafik, saya sendiri masih belum pernah datang ke acara kebudayaan indonesia dengan niat sendiri. Tetapi apa salahnya jika kita lebih mengedepankan budaya indonesia dibandingkan budaya dari luar.
     Saya kira masih banyak yang harus dibenahi untuk meningkatkan minat penduduk Indonesia terhadap kebudayaan Indonesia. Sebelum mengakhiri tulisan ini saya mohon maaf bila ada kata-kata yang menyakiti, saya tidak bermaksud memandang negatif budaya luar, tetapi alangkah baiknya kita tidak melebih-lebihkan budaya luar dibandingkan budaya Indonesia. Terima Kasih.

Daftar Pustaka :
http://my.jurnalotaku.com
http://japanesestation.com