Minggu, 20 Desember 2015

Malaysia si "Maling" dan Indonesia si "Egois"

(Tema: Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentrisme)


     Judul diatas mungkin agak sedikit mengungkapkan bagaimana perasaan saya terhadap situasi negara kita ini beberapa tahun yang lalu. Mengapa saya sebut demikian? pasti masih ingat dalam pikiran kalian tentang pengakuan Batik dan Reog Ponorogo oleh Malaysia. Itu sangat membuat hati ini kesal, dan sebenarnya masih banyak persetuan yang melibatkan pengambilan hak pengakuan budaya Indonesia oleh Malaysia.
     Malingsia kata yang sering diplesetkan oleh orang Indonesia saat itu, tapi apakah kata-kata tersebut pantas diberikan kepada mereka oleh orang Indonesia yang hanya bisa berucap tapi tidak berbuat apa-apa. Sebenarnya banyak orang Indonesia yang memiliki sifta etnosentrisme, dimana menurut Kmaus Besar Bahasa Indonesia adalah sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Saya berani mengungkapkan hal tersebut karena telah terbukti bahwa orang Indonesia sendirilah yang menyebabkan budaya kita sampai di klaim oleh negara lain dalam konteks ini adalah Malaysia.
     Kita selalu berprasangka buruk kepada orang Malaysia yang seakan-akan terus mengakui budaya Indonesia adalah milik mereka, sehingga orang Malaysia pun berprilaku yang tidak baik kepada TKW asal Indonesia dengan mendiskriminasinya seperti disiksa, upah yang kecil, dan waktu kerja yang padat bila dibandingkan dengan pekerja asal negara mereka sendiri.
     Kita boleh berkata "Maling" pada Malaysia jika memang kita telah mencintai budaya kita saat itu, kita baru mencintai batik ketika Malaysia sudah mengklaimnya bukankah itu yang dinamakan "Egois".
     Saya bersyukur karena sekarang permasalahan tersebut sudah reda, tetapi kenapa tidak kita mencegahnya dari pada mengobatinya sehingga tidak ada bekas luka yang tersisa. Kita sebagai negara yang bertetangga harus bekerja sama sehingga tercipta hubungan yang baik dan tidak ada lagi persetuan yang akan memecah belahkan hubungan antar negara.

Daftar Pustaka:
www.kbbi.web.id
pzulaiqazulkifli.blogspot.com

Pertumbuhan Cyber Crime Akibat Kemajuan Teknologi

(Tema : Ilmu pengetahuan,Teknologi dan Kemiskinan)


     Berkembangnya ilmu pengetahuan sampai hari ini terlihat sangat pesat, dapat dilihat dari munculnya berbagai macam teknologi baru yang mulai menyebar di seluruh dunia. Seakan-akan alat yang ada di kantong ajaib doraemon adalah hal yang biasa. Dengan tumbuh pesatnya teknologi pekerjaan kita pun menjadi lebih mudah, tetapi banyak orang yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakan kemajuan teknologi. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berbuat jahat akibat berkembangnya teknologi dan semakin tingginya tingkat kemiskinan di Inonesia ini. Karena tingkat kemiskinan yang tinggi membuat oknum tang tidak bertanggung jawab melakukan segala hal untuk mendapatkan uang, bahkan dengan melakukan Cyber Crime.
      Cyber Crime adalah segala bentuk jenis kejahatan yang dilakukan melalui dunia maya atau media online. Banyak sekali jenis dari Cyber Crime ini, sebut saja penipuan belanja online, prostitusi online, judi online, dan masih banyak lagi. Sampai-sampai orang biasa yang tidak ada niat jahat pun dapat melakukan Cyber Crime  jika dia membully orang melalui media online. Banyak sekali contoh Cyber Crime melalui media online akhir-akhir ini, khususnya yang menimpa kepada para artis ibu kota. Salah satu contohnya adalah anak dari presenter Ruben Onsu yang fotonya dipakai untuk penjualan bayi secara online, tentu saja sebagai ayah Ruben merasa tidak terima atas kejadian yang menimpa putrinya, dan pelaku pun melakukan hal tersebut pasti karena adanya faktor dorongan ekonomi.

     Banyak sekali contoh dari Cyber Crime  samapai-sampai tidak dapat di sebutkan satu-persatu. Majunya ilmu pengetahuan sangat baik bagi perkembangan negara Indonesia ini dan majunya teknologi juga sangat memudahkan pekerjaan. Tetapi dengan adanya kemajuan tersebut tanpa diiringi kemampuan ekonomi yang baik tidaklah ada artinya. Kemiskinan menjadi faktoor utama alasan orang berbuat jahat, mereka memanfaatkan ilmu dan teknologi yang mereka kuasai untuk melakukan hal-hal yang bersifat kriminal, walaupun tahu apa akibatnya.
     Sesungguhnya sangat disayangkan bagi para pelaku yang memanfaatkan kepintaran dan teknologi yang ada untuk melakukan kejahatan, seandainya sifat ego untuk menjadi kaya dengan instan dapat ditekan pasti Cyber Crime  pun dapat diminimalisir.
     Jadi sebaiknya kita sebagai orang yang berpendidikan tinggi janganlah menyalah gunakan kemajuan teknologi walaupun kemiskinan menghampiri kita. Karena sebenarnya rezeki sudah diatur oleh Tuhan yamg mahaa esa. Jadi kita harus berusaha dengan cara yang halal dan cara yang tidak menyakiti siapapun dalam mencari rezeki agar rezeki yang kita terima pun berkah. Aaamiiin.
      

Daftar Pustaka:
www.dahsyat.net 

Kamis, 17 Desember 2015

Indahnya Toleransi di Dunia Perkuliahan

(Tema : Masyarakat perkotaan & Masyarakat perdesaan)


    Saat ini saya sedang kuliah tepatnya semester 3 jurusan teknik industri di Universitas Gunadarma, Depok. mengapa saya memperkenalkan diri? itu hanya untuk memperjelas apa yang akan saya ceritakan selanjutnya. Seperti yang sudah saya sebutkan saya sekarang sudah kuliah banyak sekali pengalaman baru yang dapat saya rasakan terutama dari pergaulannya, ya benar, saya memiliki banyak sekali teman dari berbagai wilayah di Indonesia dari pulau Sumatra sampai Maluku, Bahkan ada teman saya yang berteman dengan orang dari Papua. Bayangkan saja mereka jauh-jauh ke Depok hanya untuk mencari ilmu.
     Saya sendiri tinggal di Cibinong Kabupaten Bogor, ya tidak begitu jauh jika dibandingkan dengan mereka yang harus merantau hingga kesini dan menetap untuk kuliah. Bisa di analogikan bahwa Jakarta dan sekitarnya itu adalah kota besar dan diluar dari kota tersebut adalah Kota yang tidak besar, saya tidak menyebutnya kecil ya. Sebenarnya itu bagaimana sudut pandang dari kita memandangnya kita tidak bisa menilai suatu kota itu kecil atau bahkan disebut pedesaan ataupun sebaliknya. Karena norma dan budaya disetiap kota itu berbeda-beda, jadi agak sulit untuk mengklasifikasikan yang mana masyarakat perkotaan dan yang mana masyarakat pedesaan.
     Agar lebih mudah saya akan menganggap orang dari Depok dan sekitarnya dalah Masyarakat perkotaan dan di luar itu adalah masyarakat pedesaan(NB: Ini hanya sebagai contoh saya tidak bermaksud membeda-bedakan suku ras dan agama). 
     Saya memiliki banyak teman sepeti yang saya sebutkan sebelumnya, ada yang dari Padang, Jawa, hingga Maluku. Mereka memiliki ciri khas masing-masing, dimulai dari logat bicara nya yang khas, bahasa yang digunakan dan kebiasaan yang biasanya dilakukan. Dikarenakan saya tinggal di Cibinong yang notabene nya dekat dengan ibu kota Jakarta saya menjadi sudah terbiasa dengan pergaulan yang ada di Depok, tetapi ada saja teman saya yang masih belum terbiasa dengan gaya hidup masyarakat perkotaan. Saya memiliki pengalaman dengan teman saya yang dari pedesaan ketika kelas kami akan mengadakan nonoton bersama di XXI Margo City Depok. Ketika itu ketua kelas kami mengkolektifkan pembelian tiket sehingga tiket dipegang oleh dia semua dan ketika tiba waktunya masuk kedalam studio saya dan teman saya yang dari pedesaan langsung masuk tanpa bertanya nomer tempat duduk dan bodohnya lagi saya tidak meminta tiket dari ketua kelas saya karena teman saya yang dari pedesaan itu berkata " kalau di kampung halaman aku, kita langsung duduk saja nonton." entah mengapa saya malah mengikuti perkataan teman saya itu dan langsung masuk dan duduk dimana saja, padahal seharusnya saya yang membimbing sebagai orang kota. Dan ketika kita duduk ada petugas penjaga bioskop menanyakan tempat duduk kami karena ternyata tempat duduk kami sudah ada yang memiliki tiketnya, untung saja itu adalah teman sekelas kami sehingga rasa malu itu pun lebih berkurang.

     Sungguh itu adalah pengalaman yang sangat tak terlupakan walaupun agak memalukan. Tetapi saya sangat bersyukur dapat berkenalan dengan teman dengan latar belakang yang berbeda dan saya menjadi lebiih belajar apa itu arti dari toleransi sesama manusia.

Daftar Pustaka
Pengalaman Pribadi

Penampilan Merubah Sikap

(Tema : Pelapisan sosial & Kesamaan derajat)


     Dari judul yang disebutkan kalian pasti sudah tahu apa yang saya maksudkan, ya benar sekali gaya berpenampilan sesorang yang dikenakan dalam sehari-hari dapat merubah sikap orang yang ada disekitarnya. Sikap orang akan berbeda-beda sesuai bagaimana karakter setiap orang menilai penampilan seseorang. Ada yang bersikap menjadi baik karena melihat seseorang berpakaian santun dan sopan, ada pula yang menjadi kesal dan tidak suka melihat orang berpakaian yang tidak sopan atau terkesan sombong dengan penampilannya. Hal itu membuktiakan bahwa gaya berpenampilan seseorang dapat merubah tanggapan orang lain kepada dirinya.
     Derajat seseorang juga dapat dilihat dari bagaimana orang tersebut berpakian, misalnya pria yang mengenakan jas dan sepatu pantopel pasti akan dipandang orang sebagai orang mapan yang sukses dan bekerja di perusahaan elit, sedangkan pria menggunakan sandal jepit dengan kaos oblong akan dipandang orang sebagai pria yang tidak mapan.
   Masyarakat saat ini tidak sedikit yang memilih-milih orang yang akan menjadi teman sepergaulannya berdasarkan derajatnya, mereka cenderung berteman dengan orang yang memiliki derajat yang sama atau lebih tinggi dari mereka, sehingga sangat terlihat sekali lapisan sosial dalam masyarakat kita ini. seperti contoh berita pada kasus Go-Jek ini.

     Dalam artikel tersebut sangat membuktikan bahwa pelayanan terhadap supir Go-Jek sangat berbeda dibandingkan dengan pengunjung yang lain, hanya dikarenakan dia berpakaian tidak rapih dan memiliki tubuh yang tidak sempurna bukan berarti harus ada diskriminasi terhadap orang tersebut. Karena dimata tuhan semua itu adalah sama tidak ada perbedaan si kaya dan si miskin, si tampan dan si jelek dan lain sebagainya.
     Mulai lah merubah sikap kita dalam memandang seseorang, karena penampilan seseorang belum tentu menunjukan sifatnya yang sebenarnya. Setiap orang berhak memiliki persamaan derajat karena setiap orang pasti memilliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Oleh karena itu saya berharap semoga tulisan ini dapat membuka mata seseorang untuk lebih bertenggang rasa pada setiap orang, dan tidak hanya melihatnya dari penampilan yang dia kenakan.  

Daftar Pustaka
www.rancahpost.co.id

Senin, 16 November 2015

Cinta Dari Tamu Melebihi Tuan Rumah

(Tema : Warga Negara dan Negara)

     Judul kali ini mungkin akan sedikit membingungkan dilihat dari tema yang akan saya bahas kali ini, oleh karena itu tanpa basa-basi saya akan menjelaskan semuanya. "Cinta Dari Tamu Melebihi Tuan Rumah" maksud dari judul ini adalah rasa cinta yang diberikan oleh tamu yang datang dari luar melebihi raasa cinta penduduk negara itu sendiri. Tamu disini dapat berarti banyak hal, mau itu wisatawan, relawan, ataupun warga negara asing yang bekerja dan menetap di negara tercinta kita ini Indonesia.
     Kenapa saya dapat mengungkapkan judul seperti itu? Ya, banyak sekali bukti yang menunjukan bahwa para WNA yang datang ke Indonesia lebih mencintai Indonesia dibandingkan kita sendiri yang asli penduduk Indonesia. Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah para wisatawaan asing yang dengan tertibnya menjaga kebersihan alam Indonesia bahkan ikut membersihkan dan melestarikan alam Indonesia baik itu di gunung, pantai, atau perkotaan sekalipun. Dibandingkan dengan warga Indonesia yang mungkin tidak semuanya seperti itu, tetapi tidak sedikit yang acuh tak acuh terhadap kondisi lingkungan alam Indonesia. Padahal pada dasarnya wisatawan tersebut tidak memiliki tanggung jawab untuk ikut melestarikan alam Indonesia, tetapi mereka sangat peduli terhadap lam Indonesia, ini berbanding terbalik dengan warga negara indonesia itu sendiri yang pada dasarnya memiliki tanggung jawab untuk melestarikan alam Indonesia tetapi bersikap tidak peduli.



     Kita dapat melihat dari kasus yang akhir-akhir terjadi bahkan masih terjadi, yaitu kabut asap yang terjadi di beberapa daerah di sumatra yang diakibatkan oleh oknum-oknum yang tidak punya belas kasih dan rasa cinta terhadap alam Indonesia dan hanya mementingkan keuntungan bagi kelompoknya sendiri. Padahal oknum-oknum yang melakukan pembakaran itu pasti warga negara Indonesia tetapi mereka seperti tidak memiliki rasa cinta kepada negara Indonesia.
     Saya berharap kita selaku warga negara Indonesia lebih mencintai dan melestarikan alam Indonesia, karena harusnya kita malu melihat warga negara asing yang dengan sukarela membantu untuk melestarikan alam Indonesia. Janganlah menunggu sampai sesuatu yang buruk terjadi karena mencegah lebih baik dari pada mengobati, jika kita ingin dicintai oleh alam mulailah mencintai alam itu sendiri. Kita dapat memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita, dengan cara membuang sampah pada tempatnya, melakukan penghijauan disekitaran rumah, melakukan kerja bakti dan lain sebagainya. Sehingga alam kita menjadi lebih indah dan sehat, dan kita pun tidak akan malu terhadap tamu yang datang ke negeri tercinta kita ini Idonesia.

Daftar Pustaka :
www.radarkedu.com

Selasa, 13 Oktober 2015

Pahlawan Muda Pembangkit Bangsa

(Tema : Pemuda dan Sosialisasi)

     Pahlawan, mungkin kata tersebut tidak asing bagi telinga kita. Jika mendengar kata pahlawan pasti pikiran kita langsung menuju pada para pahlawan yang hidup sebelum tahun 1945, seperti Ir.Soekarno, Imam Bonjol, Ki Hajar Dewantara, dan lain sebagainya. Mereka adalah pahlawan Indonesia yang telah membuat kita dapat tinggal dengan nyaman hingga saat ini di tanah air tercinta ini.
     Tapi pernahkah anda berpikir bahwa saat ini kita dikelilingi oleh banyak sekali pahlawan. Contoh nyata pahlawan saat ini adalah guru, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang rela berkorban demi mencerdaskan bangsa. Anda juga berpikir pasti guru itu adalah orang tua yang sudah berpengalaman dan memiliki ilmu sehingga dapat mengajarkannya kepada penerusnya. Ternyata banyak sekali guru yang umurnya bahkan masih sangat muda, contohnya adalah para mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang terpilih menjadi Relawan Guru Sobat Bumi (RGS) untuk mengabdi di Indonesia Timur.
     Mahasiswa tersebut dipilih oleh pertamina foundation untuk diberangkatkan  ke Kabupaten Keerom dan Kabupaten Wamena Propinsi Papua untuk pengabdian mengajar kepada anak-anak di kedua wilayah tersebut. Untuk mewujudkan program yang sudah disiapkan sejak Juni 2012 itu, Pertamina Foundation telah mengirimankan 13.000 buku teks untuk SD kelas 1 sampai kelas 3.
     Dengan adanya program tersebut kita mengetahui bahwa yang muda pun dapat menjadi pahlawan. Kita dapat mencontoh perbuatan tersebut sehingga penyetaraan pendidikan di pelosok Indonesia dapat tercapai dan membuat masa depan Indonesia menjadi lebih cerah. Semoga program tersebut dapat diadakan disetiap Universitas yang ada di Indonesia sehingga semakin banyak pahlawan-pahlawan muda yang dapat berpartisipasi dalam rangka memajukan pendidikan bangsa.
     Itu hanya merupakan sebagian contoh kecil yang dapat ditunjukan untuk menjadi pahlawan muda. Sebenarnya menjadi pahlawan itu tidak terikat pada ruang lingkup yang kecil, jika kita tidak dapat melakukan hal tersebut masih banyak hal lain yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk menjadi seorang pahlawan. Kita lihat saja dari lingkungan kita sendiri. Kita dapat memulainya dari hal yang kecil, mungkin itu kecil dimata kita tetapi dapat menjadi sangat berarti dimata orang lain. Saya harap kita semua dapat menjadi pemuda yang dapat menjadi pahlawan untuk bangsa.

Daftar Pusataka :
www.tribunnews.com
    



Ibu Kota Jakarta, Harapan atau Keputusasaan?

(Tema : Individu,Keluarga,Masyarakat)


     Semakin hari semakin padat, itulah ungkapan yang bisa disebutkan untuk Jakarta ibu kota Negara Indonesia saat ini. Bagaimana tidak seluruh lapisan individu dari setiap sudut kota di Indonesia pergi untuk mengadu nasib ke ibu kota. Setidaknya jumlah penduduk Kota Jakarta saat ini sudah mencapai 12,7 juta orang pada siang hari dan 9,9 juta orang pada malam hari.
     Rata-rata orang yang datang ke Jakarta adalah mereka yang bertujuan untuk merubah nasib, walaupun mereka tidak memiliki sanak keluarga di ibu kota. Mereka datang karena ajakan dari teman satu kota yang telah bekerja sebelumnya, sehingga mereka tertarik untuk mengais rezeki di ibu kota, bahkan tanpa modal untuk bersaing di ibu kota.
     Banyak yang telah berhasil dan sukses di Jakarta, tetapi tidak sedikit juga yang gagal dan putus asa di Jakarta. Mereka yang berhasil tentu saja dapat bertahan di kerasnya kehidupan ibu kota, tetapi mereka yang kurang beruntung justru malah terjerumus dalam kejamnya ibu kota.
     Kerasnya persaingan di Jakarta menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya orang yang putus asa ketika mencoba mengadu nasib, dari berbagai kalangan pun ikut hadir meramaikan persaingan di ibu kota. Perlu diketahui tidak sedikit dari mereka yang gagal mengadu nasib di ibu kota tidak kembali ke kampung halamannya. Banyak alasan yang menyebabkan mereka tetap tinggal walaupun tidak berhasil di ibu kota. Ada yang tidak punya modal untuk kembali ke kampung halaman sehingga mereka luntang-lantung di setiap sudut ibu kota. Bahkan ada yang menikmati profesinya menjadi seorang "Gepeng" walaupun itu bukanlah hal yang patut untuk dibanggakan.
     Semakin padatnya ibu kota Jakarta membuatnya semakin sulit untuk mencari peluang untuk bertahan. Hanya yang kuatlah yang dapat bertahan. Walaupun begitu tidak dipungkiri Jakarta memang tempat semua harapan dapat tercapai, dan sekaligus tempat keputusasaan berkumpul.

Daftar Pustaka :
www.merdeka.com

Senin, 12 Oktober 2015

Maraknya Budaya Jepang Ditengah Krisis Budaya Indonesia

(Tema : Penduduk,Masyarakat,Kebudayaan)


     Akhir-akhir ini kita sering melihat hal-hal yang "berbau" Jepang. Sebut saja restoran jepang, bahasa jepang, animasi jepang, budaya jepang, dan lain sebagainya. Anak muda zaman sekarang tidak sedikit yang mendalami budaya jepang tersebut, mereka bahkan merasa bangga bila kegiatan yang mereka kerjakan dilhat dan diperhatikan oleh orang lain, dan diantara komunitas kebudayaan jepang tersebut ada komunitas yang diisi oleh sekumpulan orang yang disebut otaku.
     Otaku adalah suatu kata ganti orang kedua yang sopan dalam bahasa Jepang. Kata ini mulai digunakan oleh kalangan penggemar dan penulis kisah fiksi ilmiah (science fiction/SF) di Jepang sekitar periode 1970-an untuk saling memanggil satu sama lain. Semakin kemari kata otaku diperuntukan untuk orang yang sangat fanatik terhadap animasi jepang. Di Jepang sendiri Otaku adalah kaum minoritas yang dipandang sebelah mata, karena mereka menganggap otaku itu adalah orang aneh yang suka menyendiri dalam kamar sambil menonton anime (Animasi Jepang) dengan hobi mengoleksi action figure (mainan replika tokoh anime). Dan kebanyakan otaku di Jepang sendiri adalah seorang penyendiri yang tidak mau bersosialisasi dengan orang lain, mereka hanya merasa nyaman jika berkomunikasi dengan sesama otaku yang membicarakan hobi yang mereka sukai.
     Sebaliknya di Indonesia mereka yang menyebut diri mereka otaku malah merasa bangga. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka bila mereka dapat berpakaian dan bertingkah laku bagaikan tokoh anime. Mereka lebih memilih mendatangi acara-acara kebudayaan Jepang walaupun harus antri berjam-jam lamanya dibandingkan dengan datang ke festival kebudayaan Indonesia seperti pertunjukan wayang, pameran batik, dan lain sebagainya.
     Saya miris melihat "serangan" budaya luar begitu kuat sehingga kebudayaan yang ada di Indonesia kalah pamor dibandingkan dengan kebudayaan dari luar. Kita selaku masyarakat Indonesia harus melestarikan kebudayaan Indonesia dengan sepenuh hati, jangan sampai negara lain mengklaim kebudayaan kita. Saya pun tidak munafik, saya sendiri masih belum pernah datang ke acara kebudayaan indonesia dengan niat sendiri. Tetapi apa salahnya jika kita lebih mengedepankan budaya indonesia dibandingkan budaya dari luar.
     Saya kira masih banyak yang harus dibenahi untuk meningkatkan minat penduduk Indonesia terhadap kebudayaan Indonesia. Sebelum mengakhiri tulisan ini saya mohon maaf bila ada kata-kata yang menyakiti, saya tidak bermaksud memandang negatif budaya luar, tetapi alangkah baiknya kita tidak melebih-lebihkan budaya luar dibandingkan budaya Indonesia. Terima Kasih.

Daftar Pustaka :
http://my.jurnalotaku.com
http://japanesestation.com


Kamis, 02 Juli 2015

Softskill "Politik Nasional"



Penyusunan Politik Strategi Nasional, Stratifikasi Politik Nasional, dan Politik Pembangunan Nasional serta Manajemen Nasional

Penyusunan Politik Strategi Nasional 

Politik dan strategi nasional yang telah berlangsung selama ini disusun berdasarkan sistem kenegaraaan menurut UUD 1945. sejak tahun 1985 telah berkembang pendapat yang mengatakan bahwa jajaran pemerintah dan lembaga-lembaga yang tersebut dalam UUD 1945 merupakan “suprastruktur politik”. Lebaga-lembaga tersebut adalah MPR, DPR, Presiden, DPA, BPK, MA. Sedangkan badan-badan yang ada dalam masyarakat disebut sebagai “infrastruktur politik”, yang mencakup pranata politik yang ada dalam masyarakat, seperti partai politik, organisasi kemasyarakatan, media massa, kelompok kepentingan (interest group), dan kelompok penekan (pressure group). Suprastruktur dan infrastruktur politik harus dapat bekerja sama dan memiliki kekuatan yang seimbang.
Mekanisme penyusunan politik dan strategi nasional di itngkat suprastruktur politik diatur oleh presiden/mandataris MPR. Sedangkan proses penyusunan politik dan strategi nasional di tingkat suprastruktur politk dilakukan setelah presiden menerima GBHN.
Strategi nasional dilaksanakan oleh para menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non departemen berdasarkan petunjuk presiden, yang dilaksanakan oleh presiden sesungguhnya merupakan politik dan strategi nasional yang bersifat pelaksanaan.

Stratifikasi Politik Nasional 

Stratifikasi politik nasional dalam negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut : 

  1. Tingkat penentu kebijakan puncak; Meliputi kebijakan tertinggi yang menyeluruh secara nasional dan mencakup penentuan undang-undang dasar. Menitik beratkan pada masalah makro politik bangsa dan negara untuk merumuskan idaman nasional berdasarkan falsafah Pancasila dan UUD 1945. Kebijakan tingkat puncak dilakukan oleh MPR. Dalam hal dan keadaan yang menyangkut kekuasaan kepala negara seperti tercantum pada pasal 10 sampai 15 UUD 1945, tingkat penentu kebijakan puncak termasuk kewenangan Presiden sebagai kepala negara. Bentuk hukum dari kebijakan nasional yang ditentukan oleh kepala negara dapat berupa dekrit, peraturan atau piagam kepala negara. 
  2. Tingkat kebijakan umum; Merupakan tingkat kebijakan di bawah tingkat kebijakan puncak, yang lingkupnya menyeluruh nasional dan berisi mengenai masalah-masalah makro strategi guna mencapai idaman nasional dalam situasi dan kondisi tertentu. 
  3. Tingkat penentu kebijakan khusus; Merupakan kebijakan terhadap suatu bidang utama pemerintah. Kebijakan ini adalah penjabaran kebijakan umum guna merumuskan strategi, administrasi, sistem dan prosedur dalam bidang tersebut. Wewenang kebijakan tingkat di atasnya. 
  4. Tingkat penentu kebijakan teknis; Kebijakan teknis meliputi kebijakan dalam satu sektor dari biang utama dalam bentuk prosedur serta teknik untuk mengimplementasikan rencana, program dan kegiatan. 
  5. Tingkat penentu kebijakan di daerah; Wewenang penentuan pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat di daerah terletak pada Gubernur dalam kedudukannnya sabagai wakil pemerintah pusat di daerahnya masing-masing. Kepala daerah berwenang mengeluarkan kebijakan pemerintah daerah dengan persetujuan DPRD. Kebijakan tersebut berbentuk Peraturan Daerah (Perda) tinkat I atau II. Menurut kebijakan yang berlaku sekarang, jabatan Gubernur/Kepala Daerah tingkat I, Bupati/Kepala Daerah tingkat II atau Walikota/Kepala Daerah tingkat II.

Politik Pembangunan Nasional serta Manajemen Nasional 

Pembangunan nasional merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kemajuan iptek serta memperhatikan tantangan perkembangan global.

Manajemen nasional merupakan suatu sistem yang pembahasannya bersifat komprehensif, strategis dan integral. Orientasinya adalah pada penemuan dan pengenalan (identifikasi) faktor-faktor strateg is secara menyeluruh dan terpadu.

Sumber : Calamu.blogspot.com

**********************************************************************************

 Dana Aspirasi Anggota Dewan Mencapai 20 Milyar


          Dana aspirasi untuk anggota dewan sedang panas-panasnya didengar oleh kita, baik itu di media elektronik maupun media cetak. Banyak pihak yang menolak adanya dana aspirasi tersebut yang besarnya kira-kira 15 milyar sampai 20 milyar. Seperti yang disampaikana oleh Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Mada Sukmajati ,” dana pembangunan daerah pemilihan atau dana aspirasi yang diusulkan Rp 20 miliar per tahun untuk setiap anggota DPR disalurkan melalui partai politik. Apa alasannya?”
Menurut Mada, jika dana aspirasi yang totalnya mencapai Rp 11,2 triliun per tahun disalurkan melalui anggota DPR, efeknya akan memunculkan fenomena personalisasi politik. Artinya, setiap kebijakan politik yang akan berdampak pada masyarakat, akan sangat ditentukan oleh masing-masing personal anggota Dewan penerima dana aspirasi tersebut. (Dilansir dari www.kompas.com)
Tetapi ada juga yang mendukung adanya dana tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di DPR, Bambang Wuryanto, "PDIP dukung pemerintah, rapat-rapatnya dengan pemerintah. Kalau pemerintah sepakat kita pasti sepakat. Apakah pemerintah sepakat atau tidak, ya pasti sepakat karena sudah masuk undang-undang,"
Bambang menyatakan dana aspirasi itu untuk menjaga kewibawaan para wakil rakyat di masing-masing daerah pemilihannya (dapil). Jika wakil rakyat tak punya dana, maka saat itu pula rakyat kecewa karena janji-janji kampanye tak terealisasi. Menurutnya, wakil rakyat yang gemar menemui rakyat akan sepakat dengan usulan dana aspirasi. Sementara yang menolak dana aspirasi adalah jenis anggota DPR yang tak suka turun ke bawah. Di sisi lain, Bambang menilai dana aspirasi nilainya tak begitu besar jika disebar ke seluruh dapil. Akan tetapi, dengan berbangga hati Bambang siap menerimanya. "Walau angkanya gede, kecil itu. Misalnya saya (mewakili) 4 kabupaten, jadi Rp 5 miliar satu desa. Jadi secara subyektif, saya menerima. Karena saya sering turun kelapangan," pungkasnya. ( Dilansir dari www.merdeka.com)
Menurut opini saya sendiri, untuk apa diturunkan dana aspirasi? Kenyataannya adalah jarang bahkan hampir tidak ada anggota dewan yang mau bersusah payah turun langsung menemui rakyat untuk memenuhi permintaan rakyat. Setidaknya pasti ada dana yang tidak turun kerakyat seutuhnya, dan rakyat hanya diberikan sebagian kecil dari dana aspirasi tersebut. Ini hanya opini saya semata, saya memang saat ini sangat tidak bisa mempercayai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dan anggota dewan. Tetapi jika mereka dapat benar-benar memenuhi keinginan rakyat, kenapa tidak? Saya sendiri hanya bisa berpendapat sebagai bagian dari rakyat Indonesia juga.