Minggu, 20 Desember 2015

Malaysia si "Maling" dan Indonesia si "Egois"

(Tema: Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentrisme)


     Judul diatas mungkin agak sedikit mengungkapkan bagaimana perasaan saya terhadap situasi negara kita ini beberapa tahun yang lalu. Mengapa saya sebut demikian? pasti masih ingat dalam pikiran kalian tentang pengakuan Batik dan Reog Ponorogo oleh Malaysia. Itu sangat membuat hati ini kesal, dan sebenarnya masih banyak persetuan yang melibatkan pengambilan hak pengakuan budaya Indonesia oleh Malaysia.
     Malingsia kata yang sering diplesetkan oleh orang Indonesia saat itu, tapi apakah kata-kata tersebut pantas diberikan kepada mereka oleh orang Indonesia yang hanya bisa berucap tapi tidak berbuat apa-apa. Sebenarnya banyak orang Indonesia yang memiliki sifta etnosentrisme, dimana menurut Kmaus Besar Bahasa Indonesia adalah sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Saya berani mengungkapkan hal tersebut karena telah terbukti bahwa orang Indonesia sendirilah yang menyebabkan budaya kita sampai di klaim oleh negara lain dalam konteks ini adalah Malaysia.
     Kita selalu berprasangka buruk kepada orang Malaysia yang seakan-akan terus mengakui budaya Indonesia adalah milik mereka, sehingga orang Malaysia pun berprilaku yang tidak baik kepada TKW asal Indonesia dengan mendiskriminasinya seperti disiksa, upah yang kecil, dan waktu kerja yang padat bila dibandingkan dengan pekerja asal negara mereka sendiri.
     Kita boleh berkata "Maling" pada Malaysia jika memang kita telah mencintai budaya kita saat itu, kita baru mencintai batik ketika Malaysia sudah mengklaimnya bukankah itu yang dinamakan "Egois".
     Saya bersyukur karena sekarang permasalahan tersebut sudah reda, tetapi kenapa tidak kita mencegahnya dari pada mengobatinya sehingga tidak ada bekas luka yang tersisa. Kita sebagai negara yang bertetangga harus bekerja sama sehingga tercipta hubungan yang baik dan tidak ada lagi persetuan yang akan memecah belahkan hubungan antar negara.

Daftar Pustaka:
www.kbbi.web.id
pzulaiqazulkifli.blogspot.com

Pertumbuhan Cyber Crime Akibat Kemajuan Teknologi

(Tema : Ilmu pengetahuan,Teknologi dan Kemiskinan)


     Berkembangnya ilmu pengetahuan sampai hari ini terlihat sangat pesat, dapat dilihat dari munculnya berbagai macam teknologi baru yang mulai menyebar di seluruh dunia. Seakan-akan alat yang ada di kantong ajaib doraemon adalah hal yang biasa. Dengan tumbuh pesatnya teknologi pekerjaan kita pun menjadi lebih mudah, tetapi banyak orang yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakan kemajuan teknologi. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berbuat jahat akibat berkembangnya teknologi dan semakin tingginya tingkat kemiskinan di Inonesia ini. Karena tingkat kemiskinan yang tinggi membuat oknum tang tidak bertanggung jawab melakukan segala hal untuk mendapatkan uang, bahkan dengan melakukan Cyber Crime.
      Cyber Crime adalah segala bentuk jenis kejahatan yang dilakukan melalui dunia maya atau media online. Banyak sekali jenis dari Cyber Crime ini, sebut saja penipuan belanja online, prostitusi online, judi online, dan masih banyak lagi. Sampai-sampai orang biasa yang tidak ada niat jahat pun dapat melakukan Cyber Crime  jika dia membully orang melalui media online. Banyak sekali contoh Cyber Crime melalui media online akhir-akhir ini, khususnya yang menimpa kepada para artis ibu kota. Salah satu contohnya adalah anak dari presenter Ruben Onsu yang fotonya dipakai untuk penjualan bayi secara online, tentu saja sebagai ayah Ruben merasa tidak terima atas kejadian yang menimpa putrinya, dan pelaku pun melakukan hal tersebut pasti karena adanya faktor dorongan ekonomi.

     Banyak sekali contoh dari Cyber Crime  samapai-sampai tidak dapat di sebutkan satu-persatu. Majunya ilmu pengetahuan sangat baik bagi perkembangan negara Indonesia ini dan majunya teknologi juga sangat memudahkan pekerjaan. Tetapi dengan adanya kemajuan tersebut tanpa diiringi kemampuan ekonomi yang baik tidaklah ada artinya. Kemiskinan menjadi faktoor utama alasan orang berbuat jahat, mereka memanfaatkan ilmu dan teknologi yang mereka kuasai untuk melakukan hal-hal yang bersifat kriminal, walaupun tahu apa akibatnya.
     Sesungguhnya sangat disayangkan bagi para pelaku yang memanfaatkan kepintaran dan teknologi yang ada untuk melakukan kejahatan, seandainya sifat ego untuk menjadi kaya dengan instan dapat ditekan pasti Cyber Crime  pun dapat diminimalisir.
     Jadi sebaiknya kita sebagai orang yang berpendidikan tinggi janganlah menyalah gunakan kemajuan teknologi walaupun kemiskinan menghampiri kita. Karena sebenarnya rezeki sudah diatur oleh Tuhan yamg mahaa esa. Jadi kita harus berusaha dengan cara yang halal dan cara yang tidak menyakiti siapapun dalam mencari rezeki agar rezeki yang kita terima pun berkah. Aaamiiin.
      

Daftar Pustaka:
www.dahsyat.net 

Kamis, 17 Desember 2015

Indahnya Toleransi di Dunia Perkuliahan

(Tema : Masyarakat perkotaan & Masyarakat perdesaan)


    Saat ini saya sedang kuliah tepatnya semester 3 jurusan teknik industri di Universitas Gunadarma, Depok. mengapa saya memperkenalkan diri? itu hanya untuk memperjelas apa yang akan saya ceritakan selanjutnya. Seperti yang sudah saya sebutkan saya sekarang sudah kuliah banyak sekali pengalaman baru yang dapat saya rasakan terutama dari pergaulannya, ya benar, saya memiliki banyak sekali teman dari berbagai wilayah di Indonesia dari pulau Sumatra sampai Maluku, Bahkan ada teman saya yang berteman dengan orang dari Papua. Bayangkan saja mereka jauh-jauh ke Depok hanya untuk mencari ilmu.
     Saya sendiri tinggal di Cibinong Kabupaten Bogor, ya tidak begitu jauh jika dibandingkan dengan mereka yang harus merantau hingga kesini dan menetap untuk kuliah. Bisa di analogikan bahwa Jakarta dan sekitarnya itu adalah kota besar dan diluar dari kota tersebut adalah Kota yang tidak besar, saya tidak menyebutnya kecil ya. Sebenarnya itu bagaimana sudut pandang dari kita memandangnya kita tidak bisa menilai suatu kota itu kecil atau bahkan disebut pedesaan ataupun sebaliknya. Karena norma dan budaya disetiap kota itu berbeda-beda, jadi agak sulit untuk mengklasifikasikan yang mana masyarakat perkotaan dan yang mana masyarakat pedesaan.
     Agar lebih mudah saya akan menganggap orang dari Depok dan sekitarnya dalah Masyarakat perkotaan dan di luar itu adalah masyarakat pedesaan(NB: Ini hanya sebagai contoh saya tidak bermaksud membeda-bedakan suku ras dan agama). 
     Saya memiliki banyak teman sepeti yang saya sebutkan sebelumnya, ada yang dari Padang, Jawa, hingga Maluku. Mereka memiliki ciri khas masing-masing, dimulai dari logat bicara nya yang khas, bahasa yang digunakan dan kebiasaan yang biasanya dilakukan. Dikarenakan saya tinggal di Cibinong yang notabene nya dekat dengan ibu kota Jakarta saya menjadi sudah terbiasa dengan pergaulan yang ada di Depok, tetapi ada saja teman saya yang masih belum terbiasa dengan gaya hidup masyarakat perkotaan. Saya memiliki pengalaman dengan teman saya yang dari pedesaan ketika kelas kami akan mengadakan nonoton bersama di XXI Margo City Depok. Ketika itu ketua kelas kami mengkolektifkan pembelian tiket sehingga tiket dipegang oleh dia semua dan ketika tiba waktunya masuk kedalam studio saya dan teman saya yang dari pedesaan langsung masuk tanpa bertanya nomer tempat duduk dan bodohnya lagi saya tidak meminta tiket dari ketua kelas saya karena teman saya yang dari pedesaan itu berkata " kalau di kampung halaman aku, kita langsung duduk saja nonton." entah mengapa saya malah mengikuti perkataan teman saya itu dan langsung masuk dan duduk dimana saja, padahal seharusnya saya yang membimbing sebagai orang kota. Dan ketika kita duduk ada petugas penjaga bioskop menanyakan tempat duduk kami karena ternyata tempat duduk kami sudah ada yang memiliki tiketnya, untung saja itu adalah teman sekelas kami sehingga rasa malu itu pun lebih berkurang.

     Sungguh itu adalah pengalaman yang sangat tak terlupakan walaupun agak memalukan. Tetapi saya sangat bersyukur dapat berkenalan dengan teman dengan latar belakang yang berbeda dan saya menjadi lebiih belajar apa itu arti dari toleransi sesama manusia.

Daftar Pustaka
Pengalaman Pribadi

Penampilan Merubah Sikap

(Tema : Pelapisan sosial & Kesamaan derajat)


     Dari judul yang disebutkan kalian pasti sudah tahu apa yang saya maksudkan, ya benar sekali gaya berpenampilan sesorang yang dikenakan dalam sehari-hari dapat merubah sikap orang yang ada disekitarnya. Sikap orang akan berbeda-beda sesuai bagaimana karakter setiap orang menilai penampilan seseorang. Ada yang bersikap menjadi baik karena melihat seseorang berpakaian santun dan sopan, ada pula yang menjadi kesal dan tidak suka melihat orang berpakaian yang tidak sopan atau terkesan sombong dengan penampilannya. Hal itu membuktiakan bahwa gaya berpenampilan seseorang dapat merubah tanggapan orang lain kepada dirinya.
     Derajat seseorang juga dapat dilihat dari bagaimana orang tersebut berpakian, misalnya pria yang mengenakan jas dan sepatu pantopel pasti akan dipandang orang sebagai orang mapan yang sukses dan bekerja di perusahaan elit, sedangkan pria menggunakan sandal jepit dengan kaos oblong akan dipandang orang sebagai pria yang tidak mapan.
   Masyarakat saat ini tidak sedikit yang memilih-milih orang yang akan menjadi teman sepergaulannya berdasarkan derajatnya, mereka cenderung berteman dengan orang yang memiliki derajat yang sama atau lebih tinggi dari mereka, sehingga sangat terlihat sekali lapisan sosial dalam masyarakat kita ini. seperti contoh berita pada kasus Go-Jek ini.

     Dalam artikel tersebut sangat membuktikan bahwa pelayanan terhadap supir Go-Jek sangat berbeda dibandingkan dengan pengunjung yang lain, hanya dikarenakan dia berpakaian tidak rapih dan memiliki tubuh yang tidak sempurna bukan berarti harus ada diskriminasi terhadap orang tersebut. Karena dimata tuhan semua itu adalah sama tidak ada perbedaan si kaya dan si miskin, si tampan dan si jelek dan lain sebagainya.
     Mulai lah merubah sikap kita dalam memandang seseorang, karena penampilan seseorang belum tentu menunjukan sifatnya yang sebenarnya. Setiap orang berhak memiliki persamaan derajat karena setiap orang pasti memilliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Oleh karena itu saya berharap semoga tulisan ini dapat membuka mata seseorang untuk lebih bertenggang rasa pada setiap orang, dan tidak hanya melihatnya dari penampilan yang dia kenakan.  

Daftar Pustaka
www.rancahpost.co.id