Kamis, 17 Desember 2015

Indahnya Toleransi di Dunia Perkuliahan

(Tema : Masyarakat perkotaan & Masyarakat perdesaan)


    Saat ini saya sedang kuliah tepatnya semester 3 jurusan teknik industri di Universitas Gunadarma, Depok. mengapa saya memperkenalkan diri? itu hanya untuk memperjelas apa yang akan saya ceritakan selanjutnya. Seperti yang sudah saya sebutkan saya sekarang sudah kuliah banyak sekali pengalaman baru yang dapat saya rasakan terutama dari pergaulannya, ya benar, saya memiliki banyak sekali teman dari berbagai wilayah di Indonesia dari pulau Sumatra sampai Maluku, Bahkan ada teman saya yang berteman dengan orang dari Papua. Bayangkan saja mereka jauh-jauh ke Depok hanya untuk mencari ilmu.
     Saya sendiri tinggal di Cibinong Kabupaten Bogor, ya tidak begitu jauh jika dibandingkan dengan mereka yang harus merantau hingga kesini dan menetap untuk kuliah. Bisa di analogikan bahwa Jakarta dan sekitarnya itu adalah kota besar dan diluar dari kota tersebut adalah Kota yang tidak besar, saya tidak menyebutnya kecil ya. Sebenarnya itu bagaimana sudut pandang dari kita memandangnya kita tidak bisa menilai suatu kota itu kecil atau bahkan disebut pedesaan ataupun sebaliknya. Karena norma dan budaya disetiap kota itu berbeda-beda, jadi agak sulit untuk mengklasifikasikan yang mana masyarakat perkotaan dan yang mana masyarakat pedesaan.
     Agar lebih mudah saya akan menganggap orang dari Depok dan sekitarnya dalah Masyarakat perkotaan dan di luar itu adalah masyarakat pedesaan(NB: Ini hanya sebagai contoh saya tidak bermaksud membeda-bedakan suku ras dan agama). 
     Saya memiliki banyak teman sepeti yang saya sebutkan sebelumnya, ada yang dari Padang, Jawa, hingga Maluku. Mereka memiliki ciri khas masing-masing, dimulai dari logat bicara nya yang khas, bahasa yang digunakan dan kebiasaan yang biasanya dilakukan. Dikarenakan saya tinggal di Cibinong yang notabene nya dekat dengan ibu kota Jakarta saya menjadi sudah terbiasa dengan pergaulan yang ada di Depok, tetapi ada saja teman saya yang masih belum terbiasa dengan gaya hidup masyarakat perkotaan. Saya memiliki pengalaman dengan teman saya yang dari pedesaan ketika kelas kami akan mengadakan nonoton bersama di XXI Margo City Depok. Ketika itu ketua kelas kami mengkolektifkan pembelian tiket sehingga tiket dipegang oleh dia semua dan ketika tiba waktunya masuk kedalam studio saya dan teman saya yang dari pedesaan langsung masuk tanpa bertanya nomer tempat duduk dan bodohnya lagi saya tidak meminta tiket dari ketua kelas saya karena teman saya yang dari pedesaan itu berkata " kalau di kampung halaman aku, kita langsung duduk saja nonton." entah mengapa saya malah mengikuti perkataan teman saya itu dan langsung masuk dan duduk dimana saja, padahal seharusnya saya yang membimbing sebagai orang kota. Dan ketika kita duduk ada petugas penjaga bioskop menanyakan tempat duduk kami karena ternyata tempat duduk kami sudah ada yang memiliki tiketnya, untung saja itu adalah teman sekelas kami sehingga rasa malu itu pun lebih berkurang.

     Sungguh itu adalah pengalaman yang sangat tak terlupakan walaupun agak memalukan. Tetapi saya sangat bersyukur dapat berkenalan dengan teman dengan latar belakang yang berbeda dan saya menjadi lebiih belajar apa itu arti dari toleransi sesama manusia.

Daftar Pustaka
Pengalaman Pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar